Keindahan salju panas yang terletak di Desa Dolok Tinggi Raja sangat lah luar biasa, kamu pernah dengar sebutan tentang salju panas? Pasti terdengar aneh yah, secara umum harusnyakan salju dingin,ini malah panas hehehe nah sebutan untuk salju panas adalah salah satu julukan dari kawasan kawah yang berada di desa dolok tinggi raja. Kawasan kawah dengan air biru dan di sampingnya terdapat gundukan kapur kapur putih, menjadikan kawasan kawah ini sangat mirip dengan daerah yang bersalju gaes, oleh karena bentuk kawahnya yang menyerupai kawasan salju maka warga disana menjuluki wilayah ini dengan sebutan salju panas.

Keindahan Salju Panas, Desa Dolok Tinggi Raja1
~Photo: Instagram @gnfi

Keindahan desa dolok tinggi raja bukan hanya di panorama pemandangannya saja gaes, melainkan dalam cerita legendanyapun desa ini sangat menarik sekali. Menurut legenda warga setempat asal usul munculnya wilayah kawah ini diambil dari sebuah cerita pada dahulu kala disini merupakan tempat perkumpulan para raja raja dimana pada suatu ketika sang raja menyuruh ajudannya untuk mengantarkan makanan ketempat ibunya yang berada tidak jauh dari kerjaaannya. Maka berangkatlah sang ajudan menuju rumah ibu sang raja, akan tetapi ditengah perjalanan sang ajudan malah memakan makanan dari raja untuk ibunya dan hanya disisakan tulang berulang bekas makanan tersebut saja. Lalu sang ajudan memberikan sisa makan itu kepada ibu sang raja, melihat makanan itu ibu sang raja marah besar kepada sang raja. Lalu setelah itu ibu sang raja menyuruh dayang dayangnya untuk membuat acara tarian ritual, saat ritual itu berlangsung dimasaklah air di sebuah tengku, dimana ketika air itu mendidih langsung membanjiri wilayah tersebut.

Keindahan desa dolok tinggi raja bisa kita nikmati dengan sedikit perjuangan untuk kesana hehehe dimana letaknya yang berada di Kecamatan Silau Kahen, Kabupaten Simalungun, provinsi Sumatera Utara, dengan jarak tempuh kurang lebih 4 jam dari kota medan. Oh iya satu lagi nih gaes, daerah ini sudah termasuk kawasan cagar alam yang diresmikan dengan keputusan Zelfbestuur Besluit (ZB) Nomor 24 Tangga 16 April 1924, pada masa pemerintahan kolonial Belanda. Hingga sekarang, kawasan ini masih berstatus cagar alam.

Baca :

Sensasi Wisata Unik dan Menarik, The Lodge Maribaya Bandung Barat

Museum Etnografi Dari Suku Bangsa Asli Yang Mendiami Aceh, Museum Negeri Aceh

PETA LOKASI: