Tempat bersejarah Rumah dengan bentuk khas adat aceh ini berukuran 25 X 17 meter dengan memiliki 65 pilar kayu. Rumah ini sejatinya dibangun oleh pihak Belanda untuk Teuku Umar karena pada saat itu Teuku Umar bersedia untuk bekerja sama dengan Belanda. Hal ini sempat menimbulkan gejolak dikalangan para pejuang yang menganggap Teuku Umar telah berkhianat dan menjadi kaki tangan Belanda. Belakangan taktik ini digunakan oleh Teuku Umar agar dapat mengakses persenjataan milik Belanda untuk kemudian dibagikan kepada pejuang Aceh. Hal ini membuat pihak Belanda sangat marah, dan dibakar hangus rumah beliau pada tahun 1896. Rumah yang sekarang adalah hasil replika yang dibangun kembali oleh depdikbud dan diresmikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Bapak Fuad Hasan pada tahun 1987. Balai pelestarian peninggalan purbakala Banda Aceh Wilayah kerja provinsi Aceh dan Sumatera Utara (SASANA BUDAYA CUT NYAK DHIEN)

Saksi Sejarah Perjuangan Masyarakat Aceh, Rumah Cut Nyak Dhien
~Photo: Instagram @nurlatipah13

Didalam rumah ini terdapat benda-benda yang digunakan oleh Teuku Umar dan Cut Nyak Dhien, berupa pakaian, pedang, rencong dan sebagainya. Makam Teuku Umar terletak di gampong Mugo, Panton Reu Kabupaten Aceh Barat. Sedangkan Cut Nyak Dhien dimakamkan di Gunung Puyuh, Sumedang (Jawa Barat). Nama Cut Nyak Dhien kini diabadikan sebagai Bandar Udara Cut Nyak Dhien Nagan Raya di Meulaboh. Rumah adat arsitektur khas rumah panggung knock down,bahan kayunya yg awet dan perawatan yg mudah,masih asri dan nyaman memasuki setiap ruangannya

Situs peninggalan sejarah yang sebaiknya perlu untuk dikunjungi apabila sedang berada di Aceh. Tempat bersejarah pahlawan Nasional Tjut Nyak Dien dan Teuku Umar terdapat koleksi foto perjuangan rakyat Atjeh melawan penjajah Belanda, ada pemandu yg memberikan penjelasan cukup interaktif.

Baca Juga :

Museum Etnografi Dari Suku Bangsa Asli Yang Mendiami Aceh, Museum Negeri Aceh

Keindahan Salju Panas, Desa Dolok Tinggi Raja

PETA LOKASI :

Museum Negeri Aceh adalah sebuah museum etnografi dari suku bangsa-suku bangsa asli yang mendiami Aceh. Museum Aceh didirikan pada masa pemerintahan Hindia Belanda, yang pemakaiannya diresmikan oleh Gubernur Sipil dan Militer Aceh Jenderal H.N.A. Swart pada tanggal 31 Juli 1915. Pada waktu itu bangunannya berupa sebuah bangunan Rumah Tradisional Aceh (Rumoh Aceh). Bangunan tersebut berasal dari Paviliun Aceh yang ditempatkan di arena Pameran Kolonial (De Koloniale Tentoonsteling) di Semarang pada tanggal 13 Agustus – 15 November 1914.

Museum Etnografi Dari Suku Bangsa Asli Yang Mendiami Aceh
~photo instagram @zuhad_kurniawan

F.W. Stammeshaus, Kurator Pertama Museum Aceh dan Kepala Museum Aceh 31 Juli 1915 s/d 1931 Pada waktu penyelenggaraan pameran di Semarang, Paviliun Aceh memamerkan koleksi-koleksi yang sebagian besar adalah milik pribadi F.W. Stammeshaus, yang pada tahun 1915 menjadi Kurator Museum Aceh pertama. Selain koleksi milik Stammeshaus, juga dipamerkan koleksi-koleksi berupa benda-benda pusaka dari pembesar Aceh, sehingga dengan demikian Paviliun Aceh merupakan Paviliun yang paling lengkap koleksinya.

Pada pameran itu Paviliun Aceh berhasil memperoleh 4 medali emas, 11 perak, 3 perunggu, dan piagam penghargaan sebagai Paviliun terbaik. Keempat medali emas tersebut diberikan untuk: pertunjukan, boneka-boneka Aceh, etnografika, dan mata uang; perak untuk pertunjukan, foto, dan peralatan rumah tangga. Karena keberhasilan tersebut Stammeshaus mengusulkan kepada Gubernur Aceh agar Paviliun tersebut dibawa kembali ke Aceh dan dijadikan sebuah Museum. Ide ini diterima oleh Gubernur Aceh Swart.

Atas prakarsa Stammeshaus, Paviliun Aceh itu dikembalikan ke Aceh, dan pada tanggal 31 Juli 1915 diresmikan sebagai Aceh Museum, yang berlokasi di sebelah Timur Blang Padang di Kutaraja (Banda Aceh sekarang). Museum ini berada di bawah tanggungjawab penguasa sipil dan militer Aceh F.W. Stammeshaus sebagai kurator pertama. Setelah Indonesia Merdeka, Museum Aceh menjadi milik Pemerintah Daerah Aceh yang pengelolaannya diserahkan kepada Pemerintah Daerah Tk. II Banda Aceh. Pada tahun 1969 atas prakarsa T. Hamzah Bendahara, Museum Aceh dipindahkan dari tempatnya yang lama (Blang Padang) ke tempatnya yang sekarang ini, di Jalan Sultan Alaidin Mahmudsyah pada tanah seluas 10.800 m2. Setelah pemindahan ini pengelolaannya diserahkan kepada Badan Pembina Rumpun Iskandarmuda (BAPERIS) Pusat. Sejalan dengan program Pemerintah tentang pengembangan kebudayaan, khususnya pengembangan permuseuman, sejak tahun 1974 Museum Aceh telah mendapat biaya Pelita melalui Proyek Rehabilitasi dan Perluasan Museum Daerah Istimewa Aceh. Melalui Proyek Pelita telah berhasil direhabilitasi bangunan lama dan sekaligus dengan pengadaan bangunan-bangunan baru.

Bangunan baru yang telah didirikan itu gedung pameran tetap, gedung pertemuan, gedung pameran temporer dan perpustakaan, laboratorium dan rumah dinas. Selain untuk pembangunan sarana/gedung Museum, dengan biaya Pelita telah pula diusahakan pengadaan koleksi, untuk menambah koleksi yang ada. Koleksi yang telah dapat dikumpulkan, secara berangsur-angsur diadakan penelitian dan hasilnya diterbitkan guna dipublikasikan secara luas. Sejalan dengan program Pelita dimaksud, Gubernur Kepala Daerah Istimewa Aceh dan Badan Pembina Rumpun Iskandar Muda (BAPERIS) Pusat telah mengeluarkan Surat Keputusan bersama pada tanggal 2 september 1975 nomor 538/1976 dan SKEP/IX/1976 yang isinya tentang persetujuan penyerahan Museum kepada Departemen Pendidikan dan Kebudayan untuk dijadikan sebagai Museum Negeri Provinsi, yang sekaligus berada di bawah tanggungjawab Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Kehendak Pemerintah Daerah untuk menjadikan Museum Aceh sebagai Museum Negeri Provinsi baru dapat direalisir tiga tahun kemudian, yaitu dengan keluarnya Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, tanggal 28 Mei 1979, nomor 093.

F. W. Stammeshaus
F. W. Stammeshaus ~photo instagram @indohistory

Friedrich Wilhelm Stammeshaus Lahir di Sigli pada 3 Juni 1881, Meninggal di Amsterdam 21 Agustus 1957. Stammeshaus anak dari seorang perwira Prusia yang selama enam tahun bekerja di bidang kesehatan di Angkatan Darat di Hindia Timur. Stammeshaus seorang kolektor dengan minat yang besar terhadap artefak etnografi.

Koleki-koleksi Stammeshaus terkenal sampai sumatera Utara. Pada 20 Juni 1903 dengan kapal uap Raja Willem III Sersan Stammeshaus datang dari Belanda dan sampai di Batavia pada 24 Juli 1903. Ia ditugaskan di infanteri resimen 11 dan pada 26 Mei 1904 ia dipindahkan ke Sumatera Utara. Pada September 1904 Stammeshaus aktif di dataran tinggi Karo dan 23 Maret 1906 Stammeshaus mendapat izin dan bertanggung jawab membawa Ekspedisi lintas ke Gayo dan Alas, ia juga berhak atas ekspedisi ke Aceh 1906-1910. Dari lokasi atau wilayah tugas Stammeshaus tersebut ia berkesempatan mencari dan menambah koleksi etnografinya. Pada 1910

Stammeshaus menjadi penulis yang bekerja untuk Pegawai Negeri Sipil di Departemen Besar Aceh Seulimeum, selanjutnya karirnya menjadi auditor Administrasi Internal Lho Nga. Ia juga pengawas dan kurator museum di Aceh Kuta Raja. F.W. Stammeshaus banyak menerima gelar kehormatan termasuk Benemerenti medali. Ia juga mendapat gelar Aceh FW Stammeshaus Teuku Ampon Calang bersama dengan mahkota emas, kupia, dan sebuah rencong karena terlibat dalam memerangi kelaparan di Aceh dan kontribusi positif kepada masyarakat Aceh selama tahun-tahun pemerintahannya.

Masuk ke museum ini 3000 Rupiah dapat dua tiket. Masuk ke rumah adat Aceh dan masuk ke bangunan Acehnya. Keren! Di kompleks ini juga ada museum senjata dan makan Sultan Iskandar Muda. Di rumah adat aceh, kamu akan disuguhkan dengan ruangan tempoe doloe. Bukan hanya itu, di rumah tersebut juga menyuguhkan koleksi keseharian masyarakat aceh zaman dahulu, seperti alat masak, alat perang, bentuk pelaminan masyarakat aceh, dan masih banyak lagi. Di museum yang satu lagi, kamu disuguhkan tentang sejarah berdirinya Aceh, juga raja-raja yang memimpin jaman dahulu.

Baca Juga:

Keindahan Salju Panas, Desa Dolok Tinggi Raja

Museum Tsunami Aceh, Tempat Wisata Yang Menyayat Hati

 

PETA LOKASI :

 

 

note:

Featured image by www.indonesiakaya.com

Bencana Tsunami merupakan bencanan tidak terlupakan oleh rakyat Aceh, bahkan sangat menyayat hati dan menjadi perhatian semua orang yang ada didunia. Peristiwa yg membawa perubahan besar. Bersatunya berbagai bangsa untuk bersama membangun kembali Aceh yang porak poranda. Sebagai bentuk apresiasi atas kontribusi dan partispasi semua elemen dalam membantu rekonstruksi Aceh dibangunlah Museum Tsunami aceh ini. Rekam jejak peristiwa 2004 lalu tersimpan baik. Generasi bisa mendapatkan pengetahuan sejarah tentang dahsyat nya tsunami itu. Mereka bisa belajar bahwa umat manusia dari berbagai negara bersatu dalam kemanusiaan.

Lokasi yg strategis, terletak di sebelah Lapangan Blang Padang yg juga menjadi lokasi pesawat Garuda “Seulawah” pertama, yg masih bagian dari pusat kota Banda Aceh. Koleksi museum mengantarkan alam pikiran kita kepada suasana tsunami Aceh th 2004. Koleksi di dalam museum terawat baik, sayangnya fasilitas parkir kurang tertib pengelolaannya, demikian juga areal taman yg perlu pembenahan. Bebas Biaya masuk museum, seandainya dikenakan biaya masuk, mungkin bisa dikelola utk pembenahan lingkungan taman

Baca Juga : Sensasi Wisata Unik dan Menarik, The Lodge Maribaya Bandung Barat

Museum Tsunami Aceh dirancang oleh arsitek Indonesia Ridwan kamil, Museum ini memiliki struktur setinggi 2,500 m 2, dinding lengkung panjangnya ditutupi relief geometris. Di dalam, pengunjung masuk melalui koridor sempit yang gelap di antara dua tembok air yang tinggi dengan kebisingan dan kepanikan saat tsunami. Dinding museum dihiasi dengan gambar orang-orang yang melakukan tari saman, sebuah gerakan simbolis yang didedikasikan untuk kekuatan, disiplin dan keyakinan agama dari orang orang aceh, Lantai dasar dimodelkan pada jenis rumah tradisional Aceh.

Museum ini dibangun oleh BRR NAD-NIAS setelah perlombaan desain yang dimenangkan M Ridwan Kamil, dosen ITB dan berhak atas dana Rp 100 juta. Museum ini sendiri menghabiskan 140 miliar untuk pembangunannya. Tsunami Aceh 2004 memakan korban jiwa hingga ratusan ribu, menyisakan nama korban dan keluarga yang ditinggalkan. Ada satu ruangan bernama Space of Sorrow atau Sumur Doa, dimana pengunjung dapat melihat nama para korban Tsunami Aceh 2004. Berbagai nama korban tertera menempel di dinding ruangan Space of Sorrow.

Museum Tsunami Aceh, Tempat Wisata Yang Menyayat Hati 1
~Photo: Instagram Account @ayudiac

TIPS: Untuk turis, pastikan memilih local guide yang tepat untuk kesini. Karena banyak sekali cerita tersimpan dalam setiap ruang di museum Tsunami. Starts from the entrance untill exit door, there are million stories to tell and tears to share. There are lessons to learn and memories to remember. Kalo Ga milih guide yang berpengalaman, kamu hanya Ke museum and nothing. Tanpa kisah, Tanpa cerita, Tanpa kenangan. Trust me, you won’t that happen.

Design bangunan mueseum yang futuristik, menarik dan modern. Cerita kisah Tsunami di Aceh disajikan dengan diorama yang baik, dan berbasis IT, menarik untuk mempelajari kisah musibah terbesar di Indonesia abad ini. Namun ada hal yang perlu di tingkatkan dan perlu di update lagi yaitu kualitas diorama dan videografi perlu di update. Fasilitas-fasilitas lainnya perlu dipertahankan dan diperbaiki di beberapa sisi yang rusak. Perkembanga IT begitu cepat, sehingga perlu di update !

Sebenarnya museum tsunami ini bagus akan tetapi banyak fasilitas yang rusak oleh pengunjung. Saya harap kedepannya pengunjung dan pengurus museum tsunami aceh dapat menjaga dan merawat fasilitas museum.

Baca Juga : Keindahan Salju Panas, Desa Dolok Tinggi Raja

PETA LOKASI:

 

Pesona wisata yang dimiliki oleh Provinsi Aceh salah satunya adalah Pantai Ulee Lheue, seolah tiada habisnya untuk dinikmati dan ditelusuri. Dibeberapa daerah tersebar begitu banyak objek wisata mulai dari pantai, air terjun, danau hingga tempat-tempat seperti museum dan wisata religi. Banda Aceh yang merupakan ibukota dari provinsi berjuluk Serambi Mekkah ini, juga menawarkan beberapa tempat wisata yang wajib untuk dikunjungi, salah satunya adalah Pantai Ulee Lheue.

Baca Juga: Sensasi Wisata Unik dan Menarik, The Lodge Maribaya Bandung Barat

Kawasan pantai Ulee Lheue telah menjadi tempat wisata dan pelabuhan sejak dulu. Pada masa kerajaan Aceh, daerah ini menjadi daerah perdagangan maritim dengan adanya kapal kapal dagang yang singgah untuk melakukan kontak perdagangan dengan penduduk lokal, di bawah perlindungan Sultan Aceh. Ketika Belanda melakukan invasi dan menghancurkan kerajaan Aceh, mereka mendirikan pelabuhan yang besar di sini untuk tempat mendarat armada kapal api milik kerajaan Belanda, terutama kapal yang melakukan perjalanan dari Batavia ke Belanda. Pelabuhan ini juga menjadi salah satu jalur suplai vital Belanda saat memerangi para pejuang Aceh dalam perang yang panjang dan melelahkan selama 35 tahun. Jepang juga memanfaatkan Ulee Lheue sebagai titik suplai mereka untuk pasukannya yang menguasai Aceh selama 3 tahun (1942-1945) dan menjadi tempat bertolaknya pasukan setelah kekalahan Jepang di tahun 1945. Pantai Ulee Lheue adalah sebuah tempat bersejarah dengan kisah yang panjang, yang kalau ditulis dapat menjadi seri buku yang berjilid jilid.

Pantai yang amat mudah djangkau karena lokasinya terletak tidak jauh dari kota banda aceh. Selalu ramai, nyaman dengan suasananya. Cocok juga untuk bawa keluarga. Akses transportasi juga gampang karena sudah tersedia jalur Bus Transkutaradja.

Jika kamu mengharapkan sebuah pantai dengan hamparan pasir putih, maka kamu tidak akan menemukannya di Pantai Ulee Lheue ini. Pantai ini memang terasa special karena cukup berbeda dengan pantai-pantai lainnya di Aceh. Disini wisatawan akan dibawa menikmati keindahan hamparan lautan yang tenang, dengan duduk dikursi kursi pinggir jalan serta menyantap jagung bakar.

Fasilitas :

  • naik bebek dayung 15 rb untuk 30 menit
  • menu makanan ada jagung bakar,air kelapa,mi aceh,bakso bakar dll
  • kamar ganti baju+mandi 15 rb(klo gak salah)
  • mushala dan masjid dekat
  • suasana sejuk banyak pepohonan.

Ketika kita stres banyak fikiran maka jawabnnya adalah laut ketika kita melihat laut maka fikiran kita akan tenng kembali selain dapat membuat fikiran tenng kita juga bisa menikmati jajan yang ada disana tempatnya yg tidak terllu jauh untuk didatangi dibandingkan pantai pantai yang lain.

Suasana nyaman dan santai. Diterpa oleh angin sepoi-sepoi khas pantai, membuat suasana sangat nyaman. Di sekitar sini juga terdapat pohon pinus yang tumbuh sangar rapi. Disarankan untuk datang di sore hari sebab para pedagang mulai berdagang saat sore hari.

Baca Juga: Keindahan Salju Panas, Desa Dolok Tinggi Raja

PETA LOKASI: